PRESSNEWS.ID — Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dinilai tidak cukup hanya mengandalkan optimalisasi pajak dan retribusi. Pengamat dan pemerhati pembangunan daerah, sekaligus selaku Wakil Ketua DPRD Babel Edi Nasapta, berpandangan bahwa langkah yang lebih strategis adalah mendorong pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memberikan nilai tambah dari pemanfaatan sumber daya alam daerah.
Menurut Edi, peningkatan PAD harus diawali dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia menilai selama ini masih banyak daerah yang terlalu fokus pada upaya meningkatkan penerimaan pajak, tanpa terlebih dahulu memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat.
“Ketika pendapatan masyarakat meningkat, maka kemampuan membayar pajak, retribusi, dan melakukan aktivitas ekonomi juga akan meningkat secara otomatis. Karena itu, kesejahteraan masyarakat harus menjadi fondasi utama dalam upaya meningkatkan PAD,” ujarnya.
Salah satu langkah yang dinilai strategis adalah penguatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Menurutnya, BUMD harus dikelola secara profesional dan diarahkan menjadi instrumen bisnis daerah yang produktif, bukan sekadar bergantung pada penyertaan modal pemerintah.
Edi menyebut sejumlah sektor potensial yang dapat digarap BUMD, antara lain hilirisasi pasir kuarsa, pengelolaan pelabuhan dan logistik, industri perikanan, perdagangan komoditas perkebunan, energi, hingga sektor pariwisata.
“Keuntungan yang diperoleh BUMD dapat kembali menjadi dividen untuk memperkuat APBD, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat,” katanya.
Selain itu, Edi juga menyoroti pentingnya pelaksanaan kewajiban plasma 20 persen oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Ia menilai implementasi kebijakan tersebut dapat menjadi instrumen pemerataan ekonomi yang efektif karena mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan perkebunan.
Menurutnya, pendapatan petani plasma akan menciptakan perputaran ekonomi yang luas, mulai dari sektor perdagangan, jasa, transportasi, konstruksi hingga pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Jika ekonomi masyarakat bergerak, maka konsumsi meningkat, usaha baru tumbuh, dan pada akhirnya berdampak positif terhadap penerimaan pajak daerah,” jelasnya.
Di sektor perikanan, Edi menilai Bangka Belitung memiliki potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia mendorong agar pembangunan sektor perikanan difokuskan pada hilirisasi sehingga hasil tangkapan nelayan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Menurutnya, produk perikanan perlu diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti fillet, surimi, bakso ikan, nugget, makanan siap saji, produk beku hingga komoditas ekspor.
“Dengan hilirisasi, keuntungan ekonomi tidak berhenti di sektor penangkapan, tetapi berlanjut ke sektor industri dan perdagangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Edi juga menilai sektor jasa dan transportasi memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Bangka Belitung. Sebagai daerah kepulauan, Bangka Belitung memiliki posisi strategis untuk berkembang menjadi pusat logistik regional.
Penguatan pelabuhan, jasa bongkar muat, pergudangan, distribusi barang serta konektivitas antar pulau diyakini mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru yang berdampak pada peningkatan PAD.
Sementara di sektor pariwisata, Edi menekankan pentingnya pengembangan pariwisata yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Menurutnya, pariwisata harus dibangun sebagai rantai ekonomi yang melibatkan hotel, restoran, transportasi, UMKM, industri kreatif, dan masyarakat lokal.
Ia juga menegaskan bahwa masa depan ekonomi Bangka Belitung tidak boleh lagi bertumpu pada penjualan bahan mentah. Hilirisasi terhadap komoditas unggulan seperti pasir kuarsa, timah, hasil perkebunan, dan perikanan harus menjadi agenda utama pembangunan daerah.
“Semakin panjang rantai industri yang berada di daerah, semakin besar lapangan kerja yang tercipta, semakin tinggi pendapatan masyarakat, dan semakin besar pula PAD yang diperoleh pemerintah daerah,” tegasnya.
Edi menambahkan, peningkatan PAD memerlukan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, BUMD, dunia usaha hingga masyarakat.
Menurutnya, fokus pembangunan ekonomi daerah harus diarahkan pada penciptaan sumber-sumber ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Ketika ekonomi tumbuh, investasi berkembang, lapangan kerja bertambah, dan daya beli masyarakat meningkat, maka PAD akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan. Itulah arah pembangunan ekonomi Bangka Belitung yang perlu diwujudkan ke depan,” pungkasnya.








